Rupiah Merosot, Prabowo Pesan Jangan Serang Pemerintah
Nailin In Saroh
Jakarta
RILISID, Jakarta — Prabowo Subianto memberi pesan agar tidak menyalahkan siapapun bahkan menyerang pemerintah dengan merosotnya nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat. Di mana Rupiah hampir menembus angka psikologis Rp15 ribu per Dolar AS.
Hal ini diungkap Bakal Calon Wakil Presiden RI, Sandiaga Salahuddin Uno yang mengaku mendapat pesan khusus dari Ketua Umum Gerindra itu. Sandiaga, juga diminta untuk tidak mengeluarkan komentar negatif yang mengkritik pemerintah khususnya Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati.
"Kita dikatakan jangan serang Bu Sri Mul, jangan serang pemerintah. Tapi kita ingatkan waspadai ini semua agar lapangan kerja, harga-harga tidak terdampak secara signifikan karena permasalahan gejolak ekonomi ini," ujar Sandiaga di Jakarta, Rabu (5/9/2018).
Menurutnya, sebagai negarawan Prabowo tidak ingin masalah tersebut dimanfaatkan untuk menyerang pemerintah. "Jadi itu pesan Pak Prabowo dan saya rasa, itu pesan negarawan yah," katanya.
Sama seperti keinginan Prabowo, Sandiaga pun berharap politisi di Tanah Air baik dari pemerintah, ataupun oposisi dapat menahan diri untuk tidak saling mengeluarkan komentar negatif. Untuk meredam tensi agar tidak seperti di Turki. Setidaknya dalam dua minggu kedepan.
"Saya bilang tunggu. Kita turunkan tensi dulu. Kita lihat ini jangan sampai kita kaya Argentina sama Turki yang sudah-sudah. waduh, sedih kalau di sana sih," tukasnya.
Disisi lain, Sandiaga meminta, masyarakat Indonesia bersatu dan menjalankan tugasnya masing-masing untuk mengatasi gejolak ekonomi yang terjadi. Ia menegaskan, saat ini bukan waktu yang tepat untuk saling menyalahkan atas melemahnya nilai tukar rupiah.
"Kita enggak mau berdebat tapi kita mau urun rembug. Urun rembug untuk memberikan masukan kepada semua pihak yang bukan hanya pemerintah karena millenials ada tugasnya, emak-emak ada tugasnya juga, terus pengusaha juga ada tugasnya, supaya semua berbagi tugas gitu, jangan overlapping dan jangan saling (serang)," tandasnya.
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
