Menjadikan Ubikayu sebagai Komoditas Strategis Lampung
lampung@rilis.id
Program kerja lembaga partnership cukup luas, mencakup antara lain: membangun kesepakatan bisnis antara gapoktan dengan industri (terkait pasokan ubikayu, standar kualitas, rafaksi, harga, dll.); melakukan pembinaan, edukasi, dan pendampingan kepada petani (dengan menurunkan mahasiswa, fresh graduate, dosen, dan penyuluh) terkait penerapan good agriculture practices dan memenuhi standar kualitas; melakukan pembinaan, edukasi, dan negosiasi kepada industri; mengemas paket teknologi inovatif hulu-hilir untuk peningkatan kinerja agribisnis; penyusunan rencana produksi dan jadwal tanam; berkoordinasi dan memberi masukan kepada pemerintah terkait regulasi dan stimulus; mengemas skema akses pembiayaan, akses sarana produksi, pemasaran, dan hal lain secara kolektif; secara berkala mengevaluasi perkembangan partnership; serta hal lain yang diperlukan.
Muncul pertanyaan, bagaimana membangun dan membiayai lembaga partnership? Ada baiknya pembentukan lembaga partnership ini diinisiasi oleh perguruan tinggi yang kapabel. Perguruan tinggi dipandang masih memiliki kredibilitas, cenderung bersifat netral, memiliki sumberdaya cukup, bisa long lasting, serta memiliki akses luas berkolaborasi dengan pihak-pihak yang relevan. Lembaga partnership berupa konsorsium yang dipimpin perguruan tinggi memerlukan dukungan biaya operasional yang besar. Pada tahap awal, pemerintah dan industri tentu harus rela berinvestasi. Setelah partnership berkembang dan diperoleh peningkatan hasil yang signifikan, maka partnership akan mampu membiayai dirinya sendiri.
Pada berbagai praktik partnership bisnis sering muncul kasus pelanggaran oleh partisipan terhadap ketentuan dan kesepakatan. Pelanggaran tentu dilatarbelakangi oleh lemahnya integritas dan adanya celah untuk melakukan kecurangan. Saat ini, pada banyak aspek kehidupan permasalahan sejenis secara bertahap dan sistematis dapat diatasi dengan penerapan sistem tata kelola berbasis teknologi informasi dan komunikasi (ICT). Lembaga partnership harus diperkuat oleh sistem tata kelola berbasis ICT yang mantap, sedemikian rupa sehingga tidak ada pilihan lain dari partisipan selain mematuhi sistem.
Gagasan di atas tentu belum bisa membumi. Perlu serial diskusi panjang untuk memperkuatnya. Melihat tingkat kesulitan yang tinggi, maka diperlukan strong leadership yang mampu membangun partisipasi, lihai memimpin orchestra, dan juga sesekali tegas seperti wasit premier league. Banyak teman akademisi yakin pendekatan partnership ini bisa diwujudkan. Mungkin kita bisa mencoba untuk exercise dulu di satu klaster saja, untuk meyakini apakah kita mampu mewujudkan model partnership ini. Semoga ubikayu Lampung segera berbalik membawa berkah dan membangkitkan ekonomi kerakyatan. Kita berharap kelak jauh di pelosok tiyuh, kampung, pekon, atau anek mulai terdengar orchestra: “di sini senang di sana senang”.
Selamat Ulang Tahun Lampung. Tabik Pun! (*)
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
