Ditunggu, Perpustakaan yang Meriangkan
lampung@rilis.id
Bandarlampung
Tak mungkin bisa berjalan baik distribusi buku tanpa adanya keterlibatan penulis, penerbit, pegiat literasi, dan pembaca.
Pemerintah, yang terbaik, adalah mendorong, mengucurkan anggaran, dan mengawal agar Gedung Perpustakaan Modern Lampung menjadi kebanggaan. Syukur-syukur dapat menjadi bagian destinasi wisata yakni wisata literasi.
Dengan demikian, harapan saya, sudahi polemik alih fungsi. Kemudian ganti dengan pemikiran bagaimana mengisi Gedung Perpustakaan yang secara fisiknya besar dan luas itu.
Pustaka jangan diartikan hanya masalah perbukuan (cetak), tapi digital, mikrofilm, e-book, dan sejenisnya.
Masyarakat akan merasa senang (sukacita) ke perpustakaan, jika persediaan bukunya lengkap, ruang baca nyaman dan menyenangkan, ada yang bisa ditemui di sana (penulis, pegiat literasi, penerbit) untuk diskusi ataupun mendapatkan pengetahuan.
Kenapa tidak? Ayo, kita mulai diskusikan atau dipersiapkan.
* Ikhsanuddin, pegiat literasi yang juga owner penerbit Aura Publisher dan Ketua IKAPI Lampung.
* Isbedy Stiawan ZS, sastrawan dan pengampu Lamban Sastra Isbedy.
(*)
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
