Pilgub NTT, Internal PDIP Pecah Pasca Marianus Sae Jadi Cagub

Sukma Alam

Sukma Alam

29 Desember 2017 14:20 WIB
Elektoral | Rilis ID
ILUSTRASI. FOTO: RILIS.ID/Hafidz Faza
Rilis ID
ILUSTRASI. FOTO: RILIS.ID/Hafidz Faza

RILISID, — RILIS.ID, Kupang— Pengamat Politik dari Universitas Katolik Widya Mandira Kupang, Mikhael Bataona menilai, PDI Perjuangan akan mengalami kesulitan dalam Pilgub NTT 2018 mendatang.

Sebab, hal ini berkaitan dengan terpecahnya internal PDIP, pasca penetapan Marianus Sae sebagai calon Gubernur NTT. 

"Saya melihat PDIP sepertinya sedang melawan dirinya sendiri sehingga akan menjadi sebuah pertaruhan yang sulit, sebab, melawan musuh dari luar itu seribu kali lebih mudah daripada melawan musuh dari dalam partai," kata Mikhael Bataona di Kupang, Jumat (29/12/2017).

Menurut dia, reaksi kader partai tentu banyak sekali walaupun tidak mencuat ke publik. Ini tentu akan mengganggu kerja politik dalam pilkada serentak 2018.

"Menurut saya, dari seluruh NTT, reaksi yang paling menarik adalah reaksi kader di DPD PDIP NTT seperti Kristo Blasin dan di Kabupaten TTU, yaitu gerbongnya Raymundus Fernandez yang kabarnya secara massal sudah menyerahkan kartu tanda anggota dan simbol partai," katanya.

Karena itu, ada kesan sedang saling hadap tiga kubu besar di internal PDIP, di mana elite PDIP di Jakrta harus berhadapan dengan DPD I yang gerbongnya tidak terakomodir, lalu gerbong DPC di semua kabupaten/kota yang terbelah karena ada yang cantolannya adalah ke DPD I dan ada yang ke DPP di Jakarta.

"Fenomena ini menurut saya, berpotensi mencabik PDIP dari dalam. Apalagi dalam politik, kebencian bersama terhadap satu pihak, bisa menjadi dasar bagi persahabatan suatu kelompok," katanya.

Menampilkan halaman 1 dari 1

Follow WhatsApp Channel

rilis.id

Dapatkan update berita terbaru setiap hari langsung dari kami.

Editor: RILIS.ID
Tag :

"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"

Share
Berita Lainnya