Bertekad Tuntaskan Reformasi, 12 Mantan Presiden Mahasiswa Jadi Caleg PAN

Default Avatar

Anonymous

Jakarta

22 Mei 2018 23:26 WIB
Elektoral | Rilis ID
12 mantan presiden mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia saat berada di Kantor DPP Partai Amanat Nasional (PAN) Jalan Senopati 113 Jakarta Selatan, Selasa (22/5/2018) sore. FOTO: BM PAN
Rilis ID
12 mantan presiden mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia saat berada di Kantor DPP Partai Amanat Nasional (PAN) Jalan Senopati 113 Jakarta Selatan, Selasa (22/5/2018) sore. FOTO: BM PAN

RILISID, Jakarta — Sudah 20 tahun Reformasi digulirkan, cita-cita bersama akan wujudnya kehidupan bangsa yang adil, makmur, dan sejahtera masih jauh dari harapan.

Atas dasar kegelisahan itu, sebanyak 12 mantan presiden mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia mendatangi Kantor DPP Partai Amanat Nasional (PAN). Mereka ingin menegaskan komitmen untuk mengawal penuntasan agenda Reformasi dengan cara bergabung menjadi calon anggota legislatif (caleg) dari PAN di Pemilu 2019 mendatang.

"Kita berkumpul di sini dengan tekad dan niat yang sama. Bahwa kita sedang resah dengan kondisi bangsa kita. Khususnya bagi kami yang di daerah. Saya memilih PAN karena partai ini adalah anak kandung Reformasi," ujar Dempo Xler, mantan Presiden BEM Universitas Bengkulu, di Kantor DPP PAN, Jalan Senopati 113 Jakarta Selatan, Selasa (22/5/2018) sore.

Ia mengatakan, hal ini adalah wujud langkah konstitusional untuk melanjutkan perjuangan. Menurutnya, berpartai adalah jalan terbaik untuk memperjuangkan nilai-nilai kebenaran, nilai-nilai demokrasi, dan nilai-nilai Reformasi.

Menegaskan pernyataan itu, Thomas Warijo, mantan Presiden BEM Universitas Cenderawasih Papua mengakui bergabung dengan PAN ini berangkat dari kegelisahannya di Papua. Thomas melihat kesenjangan sosial dan pertumbuhan ekonomi yang belum merata.

"Hari ini, kami berkumpul dengan niat yang sama, untuk menuntaskan cita-cita Reformasi. Papua juga ingin merasakan keadilan pembangunan, baik infrastruktur maupun sumber daya manusianya," kata Thomas.

Menyambut kehadiran para aktivis muda itu, Ketua Komite Pemenangan Pemilu Nasional (KPPN) PAN, Hanafi Rais, menandaskan, PAN ini lahir di tahun 1998 lalu, justru karena ide gerakan mahasiswa. Hanafi menjelaskan, PAN adalah gagasan untuk mendorong dan mengawal perubahan.

"Jadi partai ini lahir bukan karena dorongan kekuatan modal, bukan dorongan kekuatan jaringan internasional. Tapi lahir dan besar hingga sekarang ini karena gagasan para aktivis ketika itu, yang kita kenal dengan MARA. Kemudian dengan kesadaran penuh melahirkan partai kita ini," tuturnya.

Karena latar belakang historisnya itulah, kata Hanafi, PAN merupakan rumah bagi para aktivis. PAN adalah Partai Aktivis Nasional dan menjadi tugas bersama-sama untuk melanjutkannya dengan langkah politik yang konkret untuk bergabung dan menjadi caleg.

"Terima kasih atas kehadiran saudara-saudaraku di sini. Tentu nanti saya ingin kita bisa bersilaturahmi kembali. Rebutlah kursi-kursi kekuasaan itu. Karena kekuasaan itu tidak untuk ditunggu. Tetapi untuk kita rebut secara bersama-sama. Agar bisa kita isi dengan kemaslahatan bagi seluruh rakyat dan mengawal tuntas agenda reformasi," ucap Wakil Ketua Komisi I DPR RI ini.

Menampilkan halaman 1 dari 2
Next

Follow WhatsApp Channel

rilis.id

Dapatkan update berita terbaru setiap hari langsung dari kami.

Editor: RILIS.ID
Tag :

"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"

Share
Berita Lainnya