Kongres Ricuh, Pengamat Sebut PAN Tidak Dewasa dalam Berpolitik

Nailin In Saroh

Nailin In Saroh

Jakarta

11 Februari 2020 23:03 WIB
Nasional | Rilis ID
Kongres ke V Partai Amanat Nasional (PAN) yang digelar di Kota Kendari, Sulawesi Tenggara, Selasa (11/2/2020) berlangsung ricuh. FOTO: Istimewa.
Rilis ID
Kongres ke V Partai Amanat Nasional (PAN) yang digelar di Kota Kendari, Sulawesi Tenggara, Selasa (11/2/2020) berlangsung ricuh. FOTO: Istimewa.

RILISID, Jakarta — Pengamat politik dari Universitas Pelita Harapan (UPH), Emrus Sihombing menyoroti Kongres ke V Partai Amanat Nasional (PAN) yang digelar di Kota Kendari, Sulawesi Tenggara, Selasa (11/2/2020). Dimana kongres untuk memilih calon ketua umum baru berlangsung ricuh, bahkan para pendukung saling melempar bangku.

Emrus menilai kerusuhan yang terjadi dalam forum pemilihan calon ketua umum baru itu setidaknya menyampaikan dua "pesan" sekaligus kepada masyarakat. Pertama, soal ketidakdewasaan politik. 

Emrus menjelaskan, peristiwa yang sangat memprihatinkan itu menyampaikan makna kepada publik bahwa secara umum di PAN sedang terjadi ketidakdewasaan berpolitik, dan secara khusus bagi para politisi yang melakukan tindakan saling melempar kursi di ruang kongres. 

"Suka tidak suka, kejadian ini bisa menimbulkan penilaian publik atau rakyat Indonesia bahwa PAN belum mejadi partai yang dapat menyelesaikan persoalan atau perbedaan politik antar faksi di PAN secara elegan dan dewasa," ujar Emrus dalam keterangan tertulisnya, Selasa (11/2/2020).

Perilaku saling melempar kursi tersebut, kata dia, menunjukkan bahwa para politisi di PAN masih bertindak yang didominasi oleh emosi. 

"Padahal, fungsi sebuah partai memberikan teladan, pendidikan dan kedewasaan politik kepada masyarakat yang sekaligus merupakan wadah untuk melahirkan pemimpin legislatif dan eksekutif yang mumpuni," katanya. 

Menurut Emrus, mereka yang saling melempar kursi tersebut belum memenuhi syarat sebagai anggota dan kader sebuah partai moderen. Sekaligus belum layak mejadi pemimpin publik baik sebagai anggota legislatif maupun pimpinan eksekutif.

"Karena itu, pendewasaan politik dan demokrasi di internal PAN harus menjadi agenda yang sangat utama, siapa pun yang terpilih memimpin PAN lima tahun ke depan," kata Direktur Eksekutif Lembaga EmrusCorner itu.

Kedua, turunnya kredibilitas para tokoh di PAN sebagai panutan. Kejadian saling melempar kursi ini, lanjut Emrus, sekaligus memperlihatkan kepada masyarakat bahwa kredibilitas para tokoh yang ada di PAN masih belum sepenuhnya menjadi rujukan.

Akibatnya, kongres sebagai wadah pengambilan keputusan tertinggi telah dinodai oleh tindakan yang tidak terpuji dengan saling melempar kursi oleh sebagian orang yang ada di sana.

Menampilkan halaman 1 dari 2
Next

Follow WhatsApp Channel

rilis.id

Dapatkan update berita terbaru setiap hari langsung dari kami.

Editor: RILIS.ID
Tag :

"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"

Share
Berita Lainnya