PTPN VII Canangkan Zero Residu dalam Giling Pabrik Gula

lampung@rilis.id

lampung@rilis.id

Bandarlampung

26 Juni 2019 16:51 WIB
Bisnis | Rilis ID
Pencanangan Zero Residu dalam Giling Pabrik Gula. FOTO: ISTIMEWA
Rilis ID
Pencanangan Zero Residu dalam Giling Pabrik Gula. FOTO: ISTIMEWA

Mengenai proyeksi produksi, Dicky Tjahyono mengatakan optimistis bisa tercapai. Yakni, menggiling 681 ribu ton tebu dari 10 ribu hektare tanaman tebu sendiri dan tebu rakyat, dengan perolehan gula kristal sejumlah 62.000 ton. Target itu, kata mantan Manajer Unit Bekri itu, dihasilkan dari perkiraan produktivitas kebun rata-rata 66 ton per hektare dengan rendemen (kadar gula) 7,2 persen.

Tidak jauh berbeda dengan PG Bungamayang, untuk pabrik Cintamanis, tambah Dicky, menargetkan produksi gula kristal sebanyak 55 ribu ton pada siklus 2019 ini. Berbeda dengan Bungamayang, PG Cintamanis mengolah tebu dari kebun sendiri seluas 10 ribu hektare.

“Untuk Cintamanis, buka giling sudah dimulai pertengahan Juni lalu. Kami pasang target produksi 55 ribu hektare dengan produktivitas tebu 62,5 ton per hektare dan rendemen 7,34 persen. Alhamdulillah, sejauh ini sudah berjalan giling, juga dengan zero residu,” kata dia.

Secara keseluruhan, PT BCN yang mengelola dua pabrik gula itu tahun ini ditargetkan memproduksi 105 ribu ton gula putih kristal. Dengan produksi itu, anak perusahaan PTPN VII ini akan memberi kontribusi keuntungan untuk perusahaan.

“Ini adalah tahap awal untuk memperbaiki seluruh proses dari semua elemen di dua pabrik gula ini. Ada banyak perubahan mendasar yang kami lakukan selain zero residu. Antara lain, optimalisasi semua alat yang ada untuk dioperasionalkan, termasuk mulai dihidupkannya gravity,” Dicky.

Di lain pihak, Suryadi Hifni, Ketua Koperasi Petani Tebu Rakyat Unit Bungamayang mengapresiasi buka giling tahun ini. Hifni yang hadir pada acara itu mengatakan, di bawah manajemen anak perusahaan baru, ada perubahan budaya kerja perusahaan.

“Tahun ini saya sangat optimistis bisa mencapai keuntungan lumayan. Kalau tahun . Selain tanaman kurang baik karena kebanyakan hujan, pembayaran tersendat, rendemen turun, dan biaya produksi tinggi, harga jual gulanya juga terpuruk. Tetapi, tanda-tanda tahun ini akan berubah menjadi baik,” kata dia.

Suryadi Hifni berharap, pemerintah memberi perhatian kepada petani tebu dan memberi perlindungan. Antara lain, agar tidak lagi mengimpor gula agar harga gula rakyat bisa bagus dan bisa terserap pasar.(*)

Menampilkan halaman 2 dari 2
Prev

Follow WhatsApp Channel

rilis.id

Dapatkan update berita terbaru setiap hari langsung dari kami.

Editor: Adi Pranoto
Tag :

"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"

Share
Berita Lainnya