PTPN VII Canangkan Zero Residu dalam Giling Pabrik Gula

lampung@rilis.id

lampung@rilis.id

Bandarlampung

26 Juni 2019 16:51 WIB
Bisnis | Rilis ID
Pencanangan Zero Residu dalam Giling Pabrik Gula. FOTO: ISTIMEWA
Rilis ID
Pencanangan Zero Residu dalam Giling Pabrik Gula. FOTO: ISTIMEWA

RILISID, Bandarlampung — Pabrik Gula Bungamayang yang dikelola PT. Buma Cima Nusantara (BCN), anak perusahaan PTPN VII memulai proses giling tebu (Rabu, 26/6/19), memasang target produksi 62 ribu ton gula kristal selama 104 hari giling. Pabrik berkapasitas 7.000 TCD (ton cane per day) ini mencanangkan zero residu atau tanpa bahan bakar minyak (BBM).

Seremoni buka giling ditandai penekanan tombol sirine di depan feeding unit (tempat memasukkan bahan baku). Tidak seperti biasanya, suasana acara berlangsung dalam deru mesin-mesin pabrik yang sudah mulai mengolah tebu menjadi gula.

“Seremonial itu perlu, tetapi tidak boleh menghambat proses. Yang penting kita awali dengan bismillah, mesin jalan acara jalan. Nggak harus nunggu tombol sirine,” kata Muhammad Hanugroho, Direktur Utama PTPN VII saat menyampaikan sambutan.

Hadir pada upacara sederhana itu, Direktur Operasional PT BCN Dicky Tjahyono, General Manager PG. Bungamayang Aris Afandi, para manajer, Ketua Koperasi Petani Tebu Rakyat Unit Bungamayang, dan  karyawan.

Oho, sapaan Muhammad Hanugroho mengatakan, pihaknya telah mengevaluasi kinerja pabrik gula ini. Dari identifikasinya, ia menyatakan pada proses giling tahun 2019 ini akan mengalami perubahan signifikan dibandingkan tahun sebelumnya.

“Musim giling 2019 ini adalah tahun pertama PG Bungamayang dan PG Cinta Manis menjalankan operasional dengan bendera anak perusahaan kami, yakni PT. Buma Cima Nusantara. Kepada manajemen BCN, saya sudah dilimpahkan banyak kewenangan sehingga mereka bisa lebih cepat mengambil kebijakan. Tentu, dengan berbagai catatan. Dan yang menggembirakan, mereka kami beri challenge (tantangan, red.), dan mereka telah menjawabnya dengan kerja nyata,” kata Dirut bergaya milenial ini.

Salah satu tantangan krusial, kata Oho, adalah menjalankan proses giling tanpa menggunakan bahan bakar minyak (BBM) residu. Dengan tantangan itu, manajemen dan seluruh pekerja PT. BCN bekerja keras untuk memperbaiki seluruh sistem dalam pabrik sesuai standarnya.

 “Alhamdulillah, tantangan Pak Dirut tersebut sudah kami buktikan, baik di Pabrik Cinta Manis maupun di Bungamayang. Mesin kami ini memang sudah dirancang untuk menggunakan bagas atau ampas tebu. Jadi, kami berhasil menstandarkan kembali dan dari proses steam test dan hari ini mulai giling, 100 persen menggunakan bagas, zero residu,” kata Dicky Tjahyono saat mendampingi M. Hanugroho wawancara dengan media.

Penggunaan ampas tebu sebagai bahan bakar untuk menjalankan pabrik, menurut Oho, telah mengubah skema biaya produksi. Sebagai gambaran, jelas dia, untuk steam test (uji coba mesin sebelum menggiling), jika sebelumnya menggunakan bahan bakar residu (MFO, marine fuel oil) membutuhkan dana sekitar Rp4 miliar.

“Steam test kita kemarin sudah berhasil menggunakan ampas tebu 100 persen. Jadi, dana Rp 4 miliar itu bisa kita save sekitar Rp  3,2 miliar karena hanya butuh Rp 800 juta saja. Dan alhamdulillah sukses. Kami semua yakin, ini sudah mulai produksi dan berjalan dengan lancar,” tambah dia.

Menampilkan halaman 1 dari 2
Next

Follow WhatsApp Channel

rilis.id

Dapatkan update berita terbaru setiap hari langsung dari kami.

Editor: Adi Pranoto
Tag :

"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"

Share
Berita Lainnya