Keamanan Produk Ekspor Pertanian dari Lampung Meningkat
Anonymous
Bandarlampung
RILISID, Bandarlampung — Kementerian Pertanian Badan Karantina Pertanian, menyebutkan layanan karantina untuk menjamin keamanan dan kesehatan produk pertanian agar dapat diterima negara tujuan ekspor terus meningkat, khususnya di Karantina Lampung.
“Dari tahun ke tahun, ekspor baik produk segar tumbuhan dan hewan menunjukan angka peningkatannya,” kata Kepala Badan Karantina Pertanian, Kementan, Banun Harpini, ketika peluncuran perdana Pisang Mas Tanggamus ke Cina, di Lampung, Rabu (25/4/2018).
Sementara untuk produk hewan berupa Bat Guano, atau kotoran kelalawar yang sangat diminati Cina dan Amerika Serikat, juga meningkat.
Jumlah ekspor Bat Guano ini meningkat, dari 18 ton di tahun 2015 dan menjadi masing-masing 36 ton di tahun 2016 dan 2017.
Sementara untuk tumbuhan, terdapat 68 jenis produk pertanian dengan komoditas Palm Kernel Meal merupakan komoditas ekspor terbesar, disusul kopi biji, tetes tebu, RBD Palm stearin, nenas irisan, karet lempengan, nenas sirup, kelapa bulat dan buah pisang.
Adapun tujuan negara ekspornya hampir ke seluruh penjuru dunia, tepatnya ke 78 negara, mulai dari Amerika Serikat, Selandia Baru, Uzbekistan hingga negara-negara di Timur Tengah.
Hal ini sejalan dengan data yang dilansir BPS tentang data ekspor pertanian naik 20,01 persen.
Hanya saja, share-nya masih sangat kecil, hanya 1,81 persen, karena masih lebih besar industri olahan.
Ekspor pertanian yang cukup besar yaitu sarang burung, kopi, jagung, dan tanaman obat.
Banun menyampaikan, jajarannya terus meningkatkan kerjasama dengan negara-negara tujuan ekspor khususnya dalam harmonisasi peraturan perkarantinaan.
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
