Ekonom Sebut Virus Corona Belum Pengaruhi Pasar Finansial Asia
Elvi R
Jakarta
RILISID, Jakarta
— Chief Economist & Investment Strategist PT Manulife Aset Manajemen Katarina Setiawan mengatakan, masih terlalu dini untuk memprediksi dampak virus corona terhadap ekonomi di pasar finansial Asia.
Karena, menurutnya, berkaca dari pengalaman kasus-kasus epidemics yang terjadi sebelumnya, tidak melumpuhkan pasar. Kasus-kasus epidemics seperti SARS, avian flu, MERS dan swine flu bahkan tak melumpuhkan pasar Indonesia.
"Dampak paling besar untuk ekonomi atau pasar finansial Cina timbul dari Sars, berlangsung kurang dari 5 bulan. Pada waktu itu MSCI Cina turun sekitar lima persen. Sedangkan untuk penyakit menular Iain seperti tersebut di atas, dampaknya kecil. Respons cepat dari pemerintah berbagai negara saat ini diharapkan akan lebih efektif meredam dampak negatif dari Coronavirus terhadap ekonomi maupun pasar finansial," jelas Katarina.
Dengan iklim investasi yang lebih kondusif, diperkirakan arus dana dari investor global ke negara-negara emerging market. terutama di Asia, akan semakin besar.
"Tidak terkecuali dengan di Indonesia. Apalagi diperkirakan pertumbuhan Iaba korporasi tahun ini akan lebih baik dibandingkan tahun lalu. Tentunya ini akan sangat mendukung pasar saham Indonesia. Katalis positif lainnya untuk pasar saham Indonesia adalah policy reforms yang akan dilakukan pemerintah Kebijakan ini akan semakin mendukung pasar saham Indonesia. yang diperkirakan akan membaik secara bertahap," terang Katarina.
Dia juga mengungkapkan tahun ini diperkirakan akan lebih baik dibandingkan 2019. Terutama karena adanya penurunan ketegangan dagang antara Amerika Serikat dengan Cina.
"Tentunya ini akan membuat iklim investasi menjadi lebih kondusif. Arah kebijakan suku bunga The Fed pun diperkirakan akan lebih jelas dan terarah karena ada kemungkinan besar The Fed akan mempertahankan suku bunganya tetap sama sepanjang tahun ini," katanya.
Adapun untuk sektor pilihan, ada tiga sektor yang masih memberikan potensi menarik di 2020. Pertama, sektor yang diuntungkan dengan penurunan suku bunga, seperti sebagian perbankan, properti, dan konstruksi. Kedua, sektor industri metal, seperti nikel. Ketiga, sektor telekomunikasi.
Sementara untuk pasar obligasi, kombinasi dari kebijakan disiplin fiskal dan suku bunga rendah, serta target penerbitan obligasi yang lebih rendah di tahun ini dapat mendukung pergerakan pasar ob|igasi Indonesia di 2020.
"Kita tahu, bahwa suku bunga Indonesia adalah salah satu yang paling menarik di dunia," ujar Karatina.
Tentunya masih banyak tantangan yang ada, seperti kondisi geopolitik dimana-mana, Coronavirus, defisit neraca berjalan lndonesia. dan beberapa tantangan lain. Namun secara umum, kondisi di tahun 2020 diperkirakan akan lebih baik dibandingkan pada 2019.
"Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas tanpa seizin redaksi"
